Lingkar Suara Buruh Perempuan: Bagaimana kondisi kerja buruh perempuan?



Buruh-garmen-400x215-51ed9f.png

Pada situs webnya MarsinahFM salah satu penerima hibah Cipta Media Seluler menguraikan,

Media arus utama ABSEN terkait isu buruh dan perempuan. Sehingga mendorong lahirnya radio komunitas buruh perempuan: Marsinah FM; dari perempuan buruh untuk kesejahteraan, kesetaraan dan kelestarian alam.

Mengapa absen? Berdasarkan pengamatan Azhar Irfansyah yang dipublikasikan oleh Remotivi, hal ini dikarenakan isu buruh ditulis oleh wartawan yang merasa kelasnya berbeda dengan kelas buruh sehingga mereka menulis dengan sinis, dan tulisan sinis ini menjadi rutin. Padahal wartawan di Indonesia gajinya masih paling rendah di Asia Tenggara. Sehingga apabila ada aktivitas “buruh” berdemo, maka yang ditulis adalah sampah yang ditinggalkan, efek macet, dan komentar tidak bermutu seperti “tidak bisa liburan ke Bali“, menuntut BH Triumph, atau “yang demo pakai motor mewah“.

Namun seperti apa sebenernya kondisi buruh perempuan di tengah tengah pemberitaan nyinyir seperti ini? Darimana anda sebaiknya mendengarnya? Tidakkah lebih baik kita mendengarnya dari tangan pertama? Tentang perjuangan mereka menerima upah Rp. 200 ribu per bulan di tahun 1985, bagaimana mereka dipindah pindah layaknya bola sepak, dipaksa masuk kerja walaupun banjir hingga keguguran dan- hebatnya lagi – gaji dipotong harus bayar RS karena keguguran tersebut. Banyak lagi lainnya termasuk pelecehan seksual, hingga cerita lucu gagal ambil cuti haid.

Apabila melihat cerita-cerita ini, tiba tiba terasa bahwa media arus utama “cetek” sekali dalam memberitakan isu buruh dan buruh perempuan. MarsinahFM benar, media absen, karena itu untuk keadilan Ciptamedia mendukung upaya aktivis buruh dalam membuat medianya sendiri.

Apabila anda tertarik mendukung upaya MarsinahFM, mereka juga menerima sumbangan publik agar dapat terus berkarya dan menyiarkan berita dari tangan pertama.

Tags: